Program Weight Loss Zap; Cara Baru Memaknai Sehat di Tengah Tren Diet

Tissa Biani, Edric Tjandra, dan Eriska Rein berbagi pengalaman tentang kondisi tubuh yang tak selalu terlihat—dan bagaimana pendekatan medis mengubah cara mereka memahami sehat.

Tidak semua yang terlihat sehat benar-benar sehat. Di tengah tren diet dan metode weight loss seperti GLP-1, semakin banyak orang menyadari bahwa menurunkan berat badan saja tidak selalu berarti tubuh berada dalam kondisi optimal.

Menjawab kebutuhan ini, ZAP menghadirkan pendekatan berbasis medis melalui Z-Weight Loss Program (ZWL)—program yang tidak hanya berfokus pada penurunan berat badan, tetapi juga memahami kondisi tubuh secara menyeluruh.


Selama ini, angka di timbangan sering menjadi tolok ukur utama. Semakin kecil, semakin dianggap ideal. Namun, realitasnya tidak sesederhana itu. Pengalaman ini dirasakan oleh Tissa Biani. Meski terlihat fit dengan berat badan normal, ia didiagnosis mengalami sarcopenic obesity—kondisi di mana tubuh tampak ideal, tetapi komposisinya tidak sehat.

“Selama ini aku pikir kurus berarti aman. Ternyata nggak sesederhana itu,” ujarnya. Hal serupa dialami Edric Tjandra. Tanpa gejala berarti, ia baru menyadari adanya fatty liver dan kolesterol tinggi setelah pemeriksaan kesehatan. “Dari luar kelihatan oke, tapi ternyata tubuh sudah kasih tanda,” katanya.

Bagi Edric, perubahan bukan lagi soal angka, melainkan tubuh yang terasa lebih ringan dan fit. Sementara itu, Eriska Rein menghadapi perubahan tubuh pasca melahirkan. Bukan sekadar fisik, tetapi juga hormonal dan biologis. “Ini bukan soal kurang usaha. Ini perubahan yang nyata, dan itu valid,” jelasnya.


Ia pun memilih pendekatan yang lebih memahami tubuhnya—perlahan, terarah, dan berkelanjutan. Dari ketiga cerita ini, muncul satu benang merah: sehat tidak bisa disederhanakan menjadi angka.

Di tengah pergeseran ini, metode GLP-1 semakin banyak diperbincangkan. Meski sering dianggap solusi instan, dalam dunia medis GLP-1 digunakan untuk membantu mengontrol nafsu makan, menstabilkan gula darah, dan mendukung penurunan berat badan secara bertahap.

Menurut dr. Cindiawaty Josito Pudjiadi, Sp.GK, penggunaan GLP-1 harus melalui evaluasi medis dan pengawasan dokter. “Masalah muncul ketika digunakan tanpa indikasi yang jelas dan tanpa pendampingan,” jelasnya.

Hal ini sejalan dengan pendekatan di ZAP. dr. Cipuk Muhaswitri, Sp.GK menekankan bahwa setiap individu memiliki kondisi metabolik berbeda. “Tujuan utama bukan sekadar turun berat badan, tapi memperbaiki kesehatan secara menyeluruh dan berkelanjutan.”

Melalui Z-Weight Loss Program, ZAP menghadirkan program terintegrasi yang mencakup konsultasi medis, terapi, serta pendampingan berkelanjutan. Program ini juga didukung kolaborasi dengan berbagai partner—mulai dari pemeriksaan kesehatan, program fitness, hingga pengaturan pola makan—untuk memastikan proses weight loss menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan.

See also:
-- Dosis Tepat Vitamin E untuk Dapatkan Hasil Maksimal -- Mengenal Batimung, Rangkaian Spa Tradisional dari Banjar -- Inovasi Anak Tak Kenal Jarak dalam DANCOW Kreasi Anak Indonesia 2020 -- Fashionable dengan Fitur Kesehatan Lengkap, Smartwatch Amazfit GTR 2e dan GTS 2e --

Tags

please login to comment.

RELATED NEWS

Rekomendasi #8VitHabits: Nutrisi Baik dan Kebiasaan Berolahraga

Rekomendasi #8VitHabits: Nutrisi Baik dan Kebiasaan Berolahraga

READ MORE
Berani Berkeringat dan #TaklukkanPanasmu bersama Dettol

Berani Berkeringat dan #TaklukkanPanasmu bersama Dettol

Pada Hari Perempuan Internasional 2022, Dettol juga mendukung para perempuan Indonesia berani berolahraga, berkeringat dan meraih impian mereka.

READ MORE